Keluarga Hatiku

Terjebak dalam permainan sendiri itu rasanya sangat menyakitkan. Aku telah berhasil membuat sebuah perangkap cantik yang perlahan-lahan menyayat diriku hingga ke ulu hati. Aku yang kini meratapi nasibku karena hanya bisa dianggap adik kecil yang manis. Yah, itulah keadaanku yang kini terperangkap dalam “family zone”
Aku tahu disini akulah yang salah, tapi aku tak bisa untuk berbohong bahwa aku menyukai setiap bentuk perhatian kecilnya. Aku tak rela melepas semua kesenangan semu itu, meski pada akhirnya akulah yang semakin terjatuh pada lubang yang kugali sendiri.
Sentuhannya pada helaian rambutku, matanya yang menatapku dengan lekat saat berbicara, tawanya yang terdengar merdu saat menggodaku, dan yang paling ku suka, saat ia tahu kedaan diriku meski tak pernah kukatakan.
Aku sering mendapatinya tengah menatapku dari kejauhan. Hatiku kecilku slalu berteriak kegirangan, menangkap basah ia sedang seperti itu, tetapi tentunya juga merasakan sesak di dada, karena aku tahu aku tak lebih dari seorang adik kecil baginya.
Satu hal yang pasti dan tak kusuka darinya adalah ia telalu cuek. Bisa dibayangkan menyukai orang yang cuek. Ia jarang sekali mau menyapa duluan. Baik itu padaku maupun otang lain. Suatu kali, aku merasa jengah, dan mengeluarkan apa yang ada difikiram ku mengenai sikap cueknya itu. Tapi apa yang aku dapat? Ia hanya tertawa sambil berkata bahwa memang begitulah dirinya. Aku tak habis pikir dengan dirinya, bisa-bisanya ia hanya berkata begitu. Ditengah-tengah kejengkelanku aku tersenyum, ternyata akulah yang bodoh disini. Menyukai orang yang jelas-jelas tak menarik minat dengan lingkungan sekitarnya.
Aku bersyukur pada akhirnya interaksi kita tak sebanyak dulu lagi, karena banyaknya kegiatan yang kuambil dan kelas kita yang berbeda. Setidaknya, olahraga jantungku sedikit berkurang saat melihat senyum itu. Aku tak sanggup lagi menyimpan rasa ini terlalu lama, cukup sakit jika hanya satu pihak yang menginginkan. Aku tal ingin lagi menyalah artikan setiap perhatian maupun interaksi diantara kita. Biar saja kusimpan setiap cuplikan adegan dimana hatiku seolah melambung tinggi ke angkasa. Biarlah kuingat saat dimana dirimu berada tepat dibelakangku dan seolah mengunci diriku dengan tangan yang kau sampirkan di dinding. Lalu alunan suara yang kau keluarkan saat itu, yang masih terngiang dengan jelas. Lalu tawa yang kau keluarkan saat jawabanku seolah terdengar seperti lelucon bagimu. Saat pada akhirnya kau menurunkan tanganmu dan menarik dirimu dari belakangku, aku seolah tak rela semua itu telah berakhir.
Pada akhirnya itu hanya akan jadi memori yang akan selalu terkenang, aku akan selalu mengingatmu “keluarga hatiku”

Advertisements