Tahun yang baru

Tinggal meghitung hari menuju tahun yang baru

Tak terasa semua bergulir begitu cepat

Rasanya baru kemarin tangis itu mengalir,

Canda itu bergema, rasa itu mengakar,

Dan cinta itu bersemi

Memberi sejuta pengalaman dan hikmah dibalik setiap kisahnya

Akankah kutemukan bahagia,

Akankah kuraih asa,

Akankah semua berbeda di tahun yang baru?

Awanku

Awanku, kemanakah engkau pergi?

Takkah kau lihat mentari bersinar dengan sombongnya, menunjukkan kegagahan dan kuasanya

Takkah kau ingin menemaniku berlari dan menari disini

Awanku, semilir angin sungguh membuai dan menghiburku

Tapi, kau seolah bersembunyi entah dimana

Awanku, takkah kau tergelitik mendengar suara sumbangku? Bungkamlah aku dengan kehadiranmu

Awankuuu

Awankuuu

Sungguh kini aku lelah menantimu

Jatuh (kembali) ?

Dulu, saat aku mengetahui kabar itu aku menjauh. Seakan kau adalah hal paling menakutkan dalam hidupku. Tentu saja semua tersimpan rapi dalam gelagatku yang ceria. Tutur sapa tetap terjaga, dan aku malah menyambut kabar itu dengan baik. Aku mendukung bahkan seakan mengamini itu terjadi. Aku berserah, mungkin ini memang yang terbaik pikirku. 

Tapi tampaknya, bayangmu takkan pernah bisa beranjak jauh dari diriku ya. Lama kelamaan aku mulai terbiasa dengan hadirmu tanpa harus melibatkan perasaan itu. Seolah tak terjadi sesuatu yang besar, dengan mudahnya kita membuat kabar itu sebagai bahan candaan. 

Katakanlah aku si pengharap, karena aku merasa kau mulai memberi peluang kepadaku belakangan ini. Sikapmu yang membuatku hatiku bergetar juga sekaligus membuatku takut. Ya, takut. Takut untuk mengartikannya lebih jauh, takut untuk tersakiti kembali akan anganku yang tak berkesudahan nantinya.

Aku memilih untuk mengabaikan getaran itu, saat kau mulai memegang tanganku tanpa merasa bersalah. Bersikap biasa saja saat mataku menangkap dirimu sedang memandangiku. Menyembunyikan rona wajahku saat kau datang menghampiri diriku dengan alasan yang konyol. Menolak rasa bahagia saat kau mulai menggangguku dan tertawa bersamaku.

Pertahananku runtuh saat malam itu, ia datang menghampiriku. Yah meminta tuk melakukan kebiasaan kami saat ada acara. Sekedar berfoto bersama, namun ini adalah kali pertama ia yang mengajukan diri untuk berfoto. Selama selalu aku yang meminta seperti anak kecil kepadanya. Sedari acara berlangsung aku melihat dirinya sempat melirikku. Aku mati-matian mengacuhkannya, karena tak ingin lagi ada yang menganggu pikiranku. 

Aku mengiyakan tawarannya, dan menelusupkan tanganku kedalam lengannya. Kali ini terasa berbeda, seakan ada sengatan listrik di tanganku, lengannya sangat pas dan terasa nyaman untukku. Aku tak berharap banyak setelahnya, walau ia tetap berada di dekatku. Aku memilih untuk melanjutkan acara foto-fotoku yang sempat tertunda. Awalnya aku merasa bangga, karena pada akhirnya dialah yang banyak memulai komunikasi. Namun sekarang, justru aku yang terperosok dan tembok pertahananku runtuh tak bersisa. 

Heyyy dikau yang tak pernah peka, haruskah aku jatuh untuk kedua kalinya karena dirimu?