Goresan Cerita

Lisanku memang tak berkata

Namun bukan berarti ku tak merasa

Rupaku tak terbaca, sebab tak ingin ada yang retak

Memang diri patuh menurut, tapi luka telah tertoreh

Katanya adinda tak pandai merasa, nyatanya mereka menusuk tanpa rasa bersalah

Katanya adinda terlalu sibuk sendiri, nyatanya mereka yang mengecilkanku 

Bila membawa ego, telah lama singa ini terbangun. Tapi dinda tak ingin menghancurkan apa yang dimulai dengan baik.

Wahai kalian yang katanya menyuarakan keseimbangan. Takkah kau berkaca diri?

Maaf

Maaf bila aku tak peka.

Maaf bila pada akhirnya aku mengecewakan. 

Maaf bila aku tak bisa menyambutmu.

Maaf bila aku tak bisa walau telah mencoba.

Maaf aku memang tak cukup baik untukmu.

Maaf untuk aku yang tak tahu diri.

Maaf, karena perasaan tak bisa dipaksa.

pencuri hati

​Hayyy kamu sang pencuri. Bagaimana bisa engkau masuk dalam hatiku? Rasanya hatiku telah kututup rapat untuk orang lain, dan kuncinya hendak kuserahkan pada seseorang yang telah lama kuperhatikan.

Namun, semakin hari rasanya ada celah yang terus membesar dan perlahan membuka pintu hatiku. Seolah seperti sihir, namun terlihat wajar dimataku. Engkau yang berdiri didepan pintu, menantiku dengan senyum yang terkembang. Matamu seolah mengunciku, dan memberikan aura kedamaian. Aku mulai terbiasa dengan sosok yang hadir mengisi hariku. Melewati waktu dengan tertawa bersamamu. Kini timbul pertanyaan di benakku, apakah memang engkau yang kucari selama ini? Akankah kuserahkan kunci hatiku padamu?

Sejujurnya aku takut, takut untuk melangkah lebih jauh. Takut akan ketidakpastian masa depan yang tak bisa kulihat. Takut memulai bersama orang yang pada awalnya tidak kuinginkan. Takut kepadamu sang pencuri hati.

Semangat!

Meskipun kau merasa sudah memberikan yang terbaik, dan berbuat yang benar. Akan tetap ada yang menganggapmu buruk dan jahat. Itu merupakan hal yang lumrah. Seperti kata yang sudah sering kita dengar, “jika kita menanam padi, rumput liar akan ikut tumbuh bersamanya. Namun bila kita menanam rumput, maka rumput sendirilah yang akan tumbuh” takkan ada kebaikan yang menyertai apabila kita berbuat jahat.

Tetaplah teguh berbuat yang baik, meski rintangan dan cela silih berganti. Ingatlah selalu semua kita lakukan semata-mata hanya untuk Tuhan. Airmata mu takkan jatuh sia-sia. Dukamu akan berganti dengan sukacita. Pandanglah orang-orang yang ada untuk mendukungmu. Jangan berkecil hati dan menganggap semua menentangmu. Bahkan orang yang jahat sekalipun, memiliki sisi baik. Terlebih lagi dirimu.

Semangattttt, selamat menjalani tahun 2016. Tahun yang penuh harapan dan berkat, Tuhan Yesus memberkati

Tahun yang baru

Tinggal meghitung hari menuju tahun yang baru

Tak terasa semua bergulir begitu cepat

Rasanya baru kemarin tangis itu mengalir,

Canda itu bergema, rasa itu mengakar,

Dan cinta itu bersemi

Memberi sejuta pengalaman dan hikmah dibalik setiap kisahnya

Akankah kutemukan bahagia,

Akankah kuraih asa,

Akankah semua berbeda di tahun yang baru?

Awanku

Awanku, kemanakah engkau pergi?

Takkah kau lihat mentari bersinar dengan sombongnya, menunjukkan kegagahan dan kuasanya

Takkah kau ingin menemaniku berlari dan menari disini

Awanku, semilir angin sungguh membuai dan menghiburku

Tapi, kau seolah bersembunyi entah dimana

Awanku, takkah kau tergelitik mendengar suara sumbangku? Bungkamlah aku dengan kehadiranmu

Awankuuu

Awankuuu

Sungguh kini aku lelah menantimu

Jatuh (kembali) ?

Dulu, saat aku mengetahui kabar itu aku menjauh. Seakan kau adalah hal paling menakutkan dalam hidupku. Tentu saja semua tersimpan rapi dalam gelagatku yang ceria. Tutur sapa tetap terjaga, dan aku malah menyambut kabar itu dengan baik. Aku mendukung bahkan seakan mengamini itu terjadi. Aku berserah, mungkin ini memang yang terbaik pikirku. 

Tapi tampaknya, bayangmu takkan pernah bisa beranjak jauh dari diriku ya. Lama kelamaan aku mulai terbiasa dengan hadirmu tanpa harus melibatkan perasaan itu. Seolah tak terjadi sesuatu yang besar, dengan mudahnya kita membuat kabar itu sebagai bahan candaan. 

Katakanlah aku si pengharap, karena aku merasa kau mulai memberi peluang kepadaku belakangan ini. Sikapmu yang membuatku hatiku bergetar juga sekaligus membuatku takut. Ya, takut. Takut untuk mengartikannya lebih jauh, takut untuk tersakiti kembali akan anganku yang tak berkesudahan nantinya.

Aku memilih untuk mengabaikan getaran itu, saat kau mulai memegang tanganku tanpa merasa bersalah. Bersikap biasa saja saat mataku menangkap dirimu sedang memandangiku. Menyembunyikan rona wajahku saat kau datang menghampiri diriku dengan alasan yang konyol. Menolak rasa bahagia saat kau mulai menggangguku dan tertawa bersamaku.

Pertahananku runtuh saat malam itu, ia datang menghampiriku. Yah meminta tuk melakukan kebiasaan kami saat ada acara. Sekedar berfoto bersama, namun ini adalah kali pertama ia yang mengajukan diri untuk berfoto. Selama selalu aku yang meminta seperti anak kecil kepadanya. Sedari acara berlangsung aku melihat dirinya sempat melirikku. Aku mati-matian mengacuhkannya, karena tak ingin lagi ada yang menganggu pikiranku. 

Aku mengiyakan tawarannya, dan menelusupkan tanganku kedalam lengannya. Kali ini terasa berbeda, seakan ada sengatan listrik di tanganku, lengannya sangat pas dan terasa nyaman untukku. Aku tak berharap banyak setelahnya, walau ia tetap berada di dekatku. Aku memilih untuk melanjutkan acara foto-fotoku yang sempat tertunda. Awalnya aku merasa bangga, karena pada akhirnya dialah yang banyak memulai komunikasi. Namun sekarang, justru aku yang terperosok dan tembok pertahananku runtuh tak bersisa. 

Heyyy dikau yang tak pernah peka, haruskah aku jatuh untuk kedua kalinya karena dirimu?