Keinginan yang selaras denganNya

 Roda kehidupan akan terus berputar. Kadang kita berada di bawah,kadang kita berada di atas. Setiap prosesnya mempunyai kisah tersendiri bagi sang empunya. Pahit manis menjalani hidup, dan suka duka menghadapi badai yang mendera. Saat kata tak mampu lagi terucap, tawa sumbanglah yang menjadi alunan nada bagi setiap jalan.Mungkin bagi orang lain ini adalah kisah klasik yang terjadi sehari-hari. Namun tidak bagi Gwen yang masih rapuh dan butuh ditempah agar menjadi kuat. Gwen adalah seorang mahasiswa biasa di lingkungan kampus FKM USU. selayaknya seorang mahasiswa, ia haus akan pengetahuan dan pengalaman akan kehidupan perkuliahan. Setiap hari saat Gwen terjaga dari tidur ia selalu bertanya,” akan jadi apakah aku nanti? Bisakah aku menjadi seorang pemimpun? Akankah aku berguna bagi lingkungan dan masyarakat?”

Pertanyaan klise dan polos dari seorang mahasiswa baru yang mengecap dunia perkuliahan. Seorang perempuan yang masih dilingkupi euforia akan status barunya yang telah menjadi seorang “Mahasiswa”. Untuk mulai membangun dirinya, Gwen selalu mengikuti perkembangan yang terjadi di kampus. Baik itu mengenai informasi perekrutan anggota organisasi, perekrutan kepanitiaan sampai kegiatan keagamaan diikuti. Dia yang dulunya pemalu, perlahan mencoba tuk memberanikan diri mengikuti setiap kegiatan tersebut. Butuh kekuatan ekstra untuk gadis sepertinya membuka diri. Orang lain yang melihatnya takkan tahu bahwa dibalik senyum dan perkataan yang terlontar dari bibirnya, terselip ketakutan akan setiap pandangan mata yang tertuju kepadanya. Terlebih bila yang memandangnya adalah laki-laki. Ah, memang bagaimanapun dia adalah seorang perempuan bukan? Normal saja bila ia melting dihadapan abang kelas yang ganteng.

Entah ini penyakit atau bukan, tapi itulah kelemahannya. Dia tak mampu dipandang lebih dari 5 detik. Menurutnya itu adalah hal memuakkan bila harus bertatap mata. Jadi bila ada sekumpulan lelaki sedang berada di koridor, Gwen akan lebih memilih untuk mengambil jalan memutar daripada melewati mereka. Remaja yang beranjak dewasa memang terkadang membingungkan.

Setiap harinya saat mengikuti perkuliahan, Gwen akan berusaha untuk duduk di bangku yang terdepan. Menurutnya itu akan membuat dia lebih mengerti dalam memahami setiap materi. Sungguh tipikal mahasiswa yang baik. Catatannya rapi, tugas selalu dikerjakan tepat pada waktunya. Di sela-sela waktu perkuliahan Gwen tetap menyisihkan waktu untuk bermain bersama empat temannya. Kesukaan mereka adalah kuliner mencari makanan yang unik dan memiliki tempat nongkrong yang asyik. Porsi makan mereka berlima ini bisa dibilang tidak santai. Mengingat hampir semua ukuran tubuh mereka boleh dikatakan ideal. Dalam satu kali santapan, bisa sampai tiga menu dibantai habis.

Oiya teman-teman Gwen ini merupakan teman satu kelasnya di kampus. Mereka adalah Mela, Ina, Lisa dan Marsha. Mereka memiliki keunikan tersendiri yang saling melengkapi. Mela dengan jiwa kepemimpinan yang terkadang absurd, Ina dengan sifat idealis namun melankolis, Lisa yang periang dan pintar, Marsha yang gaul tapi cuek. Pada awalnya mereka semua tidak mengikuti kegiatan organisasi manapun selain kelompok kecil untuk mengisi diri mereka.

Hari berganti hari, Gwen pun kini telah mengikuti kegiatan kepanitiaan yang banyak. Begitu juga dengan organisasi, dia telah menjadi anggota 3 organisasi yang berbeda. Mengikuti banyak kegiatan membuat Gwen memiliki banyak teman,relasi, dan juga pengalaman. Sehingga setelah beberapa semester berlalu, kini ia telah menjabat sebagai pengurus dari ketiga organisasi tersebut sekaligus. Sungguh ini adalah sebuah prestasi apabila dikerjakan dengan baik, namun akan menjadi bumerang apabila dia tak mampu mengelolanya.

Pada awal pengerjaan Gwen merasa sangat senang. Dia merasa dipercaya dan memiliki tanggung jawab untuk mengurusi setiap organisasi yang dia pegang.Gwen juga memiliki banyak teman dari seluruh pelosok negeri berkat jabatan yang ia pegang di kancah nasional. Sembari mengerjakan tugasnya ia bisa jalan-jalan ke luar kota dan mengenal budaya- budaya disana. Perlahan banyak program yang mulai menyita waktu dirinya bahkan terkadang membuat dia kehilangan waktu istirahat. Dari yang tadinya memiliki kebiasaan menonton drama korea, kini untuk memiliki waktu tidur yang cukup saja sudah merupakan anugerah. Yang tadinya bisa galau karena gebetan sekarang galau mikirin program. Bahkan tugas kuliah pun kejar-kejaran dengan waktu pengumpulannya. Gwen merasa sangat pusing dan jenuh.

Sekarang yang terpikir olehnya adalah bagaimana agar program maupun kegiatan tersebut bisa berjalan dengan baik. Teknis teknis dan teknis yang terus dikerjakannya. Tak ada lagi gairah dan semangat yang dia rasakan diawal pada saat berorganisasi. Di tengah kekalutannya, masalah dalam pertemanan juga menambah beban dalam jiwanya. Teman-teman Gwen juga sudah mulai sibuk dengan organisasi mereka masing-masing. Bertemu dengan teman baru yang lain, dan menyita waktu mereka untuk sekedar bercerita berlima. Gwen, Mela, Ina, Lisa dan Marsha seakan memilik dunia mereka masing-masing. Tak ada satupun dari mereka yang memiliki titik temu. Hingga pada akhirnya saat mereka berada di titik terendah dalam menghadapi setiap masalah, mereka saling menyalahkan akan kesibukan mereka dalam organisasi yang mereka pegang. Keadaan memanas dan mengakibatkan mereka pecah dan memilih untuk jalan sendiri-sendiri.

Kalut, yah itulah yang dirasakan Gwen. Semua tidak sesuai dengan ekspektasi dirinya. Seakan dia sibuk sana-sini namun tak ada hasil dan dampak untuk dirinya. Gwen mulai meninggalkan kebiasaannya bersaat teduh dan memilih untuk tidur. Bila ada masalah dia malah curhat ke blognya dan tidak membawanya kepada sang empunya kehidupan. Gwen jarang berdoa dan bergereja sebatas kewajiban bukan sebagai kebutuhan lagi. Semakin hari hidupnya semakin hancur. Gwen mulai menarik diri dari lingkungannya. Egonya mulai bermain. Dia tak ingin waktu istirahatnya terganggu. Apabila ada kegiatan dari kampus atau organisasi, dia tak lagi mengikutinya. Semua gadget disilent dan Gwen bebas melakukan semua yang diinginkannya. Menghilang dari segala rutinitas yang telah ia bangun selama ini membuat dirinya merasa segar kembali. Sembari ia merenungi segala yang telah dilaluinya.

Benarkah ini yang diinginkannya? Mendapatkan jabatan dan terkenal hingga kancah nasional, namun sesungguhnya hati dan jiwanya kosong. Kehilangan waktu yang berharga bersama orang-orang yang dikasihi, study berantakan, tidak ada waktu untuk istirahat atau santai, bahkan jauh dari Tuhan. Gwen menangis sejadi-jadinya. Tidak, bukan ini tujuannya berkarya. Di tengah kekalutan yang melanda, Gwen bersujud dihadapan Tuhan memohon ampun atas keegoisannya selama ini. Atas kesombongannya mengandalkan diri sendiri menghadapi segala perkara. Sesudah ia merasa tenang, malamnya Gwen kemudian berinisiatif untuk mengajak Mela, Ina, Lisa dan Marsha untuk berkumpul. Saling membuka diri dan menceritakan apapun yang mengganjal dihati masing-masing. Penuh dengan tangisan, amarah dan juga kecewa dalam setiap perkataan yang mereka lontarkan kepada setiap individunya. Tak terasa fajar pun datang, seiring dengan mata yang membengkak, mereka pun kini telah bersatu kembali. Saling mentertawakan kebodohan masing-masing, dan berjanji untuk saling membantu dalam kesusahan. Meski kini intensitas pertemuan mereka tak lagi sebanyak dulu.

Gwen mulai bangkit dan percaya diri lagi,menata kembali kehidupannya. Gwen mengerjakan setiap program yang telah ia buat dan berusaha memberikan yang terbaik dari dirinya. Dia berkomitmen untuk mengerjakan hingga pada akhirnya nanti semua selesai. Study nya pun membaik, Gwen berusaha mengejar ketertinggalannya dalam setiap mata kuliah. Tak lupa pula ia selalu memberikan waktu untuk mengucap syukur setiap harinya kepada Tuhan, atas semua berkat yang boleh ia terima. Selalu berusaha agar keinginnya selaras dengan keinginan Tuhan. Pada akhirnya, setiap orang akan memiliki masalahnya masing-masing. Namun takkan pernah Tuhan memberikan ujian yang takkan mampu dikerjakan oleh umatNya. Semua kembali lagi kepada hubungan kita dengan Tuhan. Apabila dalam menghadapi setiap ombak kehidupan, kita berpegang teguh padaNya, maka semua akan bisa dilewati. Tuhan tak pernah menjanjikan kehidupan yang mulus apabila menjadi pengikutNya, tapi kehidupan kekal akan menjadi milik kita. Seperti yang tertulis di Matius 6:33 “tetapi carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu”.

Senandung Jiwa

Apalah daya jiwa ini, tuk meledakkan bom tepat di muka 

Aku hanyalah angin yang tak berupa dan tak dipandang 

Seperti rumput yang tak bisa marah, walau diinjak dan kesakitan

Aku hanya rinai hujan yang hadirnya kadang tak diharapkan

Mendung hati ini siapa yang tahu, selain Dia yang memperhatikan

Baik kaki ini melangkah menjauhi gunung, karena untuk menaklukkannya aku tak sanggup

Kuharap tetesan hujan ini adalah penghantar bahagia

Sebab bulan pun tak ingin menampakkan diri ditengah gelapnya malam dan udara yang menusuk 

Rahasia si Gadis

Aku ingin memberitahu sebuah rahasia dari seorang gadis padamu. Mungkin, tidaklah sehebat cerita-cerita di luar sana, karena ia hanyalah seorang gadis biasa. Cerita tentang sesuatu yang telah lama ia pendam, hahaha kurasa kau akan tertawa hingga sakit perut bila tahu ia bisa menyimpan kisah klasik ini seorang diri untuk waktu yang lama.

Ya sudah kita mulai sajalah, jadi begini. Alkisah hiduplah seorang gadis yang berkepribadian menarik. Kenapa aku bilang menarik? Karena ia bisa dengan mudah tertawa dan tersenyum dengan orang lain, padahal orang itu telah membuatnya terluka hingga tersayat-sayat. Hahhaaha, lebay sekali kata-kata ku ya, tapi intinya memang begitu. 

Dia menyukai setiap orang dengan begitu mudahnya, akupun keheranan dibuatnya. Masa dalam satu waktu yang sama dia bisa menyukai 3 orang sekaligus. Astagaaa, bisa dibayangkan? Sepertinya anak ini tidak sungguh-sungguh jatuh cinta, begitu pikirku. Namun anehnya, ia seakan tak rela bila orang yang disukainya itu menyukai orang lain. Hatinya sakit seolah ditusuk dengan pisau yang tajam. Malahan ditengah pedih hatinya  itu, ia membantu sang pujaan hatinya itu mendapatkan gadis yang ia suka.

Haduuuuh, aku tak habis pikir dengan gadis satu ini. Hebat sekali yaa, itu pendapatku kalian tidak boleh protes dong, hahaha. Nah, tak lama setelah kejadiam itu , terungkaplah bahwa lelaki kedua yang disukainya itu menyukai temannya sendiri. Wahhhh, kacau dunia persilatan. Bisa dibayangkan pemirsahhh???

Eitssss, si gadis ini juga malah anteng-anteng aja memberi dukungan pada temannya itu, agar sang teman mau menerima sang lelaki. Emang barang kali ya dinego-nego hahahha. Akupun jadi gemesss sendiri melihat gadis ini. Lalu suatu harii aku bertanya padanya. “Memang kamu ga sakit hati apa melihat para lelaki itu sekarang tak lagi sendiri?” Si gadis menjawab, “awalnya sakit sih, tapi mau diapain lagi. Malah aku senang melihat mereka bahagia.”

Mampussss, jawabannya bikin aku garuk-garuk kepala. “Jadi sekarang tinggal abang yang ‘C’ dong ya?” Tanyaku pada sang gadis. “Iyapsss, dan aku mau fokusss sama abang ini aja” jawabnya kalem. Hemmmm, asal lah yang ini berhasil pikirku. Yah setidaknya abang yang ini lagi jomblo, dan gadis yang disukai abang ini pun telah memiliki pacar. Hihihi, kan ada harapan dongg.

Tapi, kok si gadis ini ga ada pergerakan sih, ngedeketin abang itu. Saat kutanyakan pada si gadis, dia berkata bahwa ia adalah orang yang mengagumi dan memperhatikan dari jauh. Ya terusss kapan dapetnya donggg??? Lalu si gadis melanjutkan perkataannya lagi, “aku adalah perempuan, tak mungkin aku yang memulai, nanti yang ada dia malah tak menyukaiku. Biarlah sembari ia menyadari diriku, aku memantaskan diri menjadi pasangan yang sepadan untuknya.” 

Aku terdiam tak sanggup lagi untuk berkata. Yah , benar juga yang dikatakannya. Untuk hal ini aku setuju denganmu gadis. Teruslah berjuang untuk menjadi calon yang pantas dan sepadan untuk lawan jenis. Aku mendukung dan mendoakan kebahagiaanmu selalu.

Merindu

Jiwaku sepi, temanilah diriku sejenak disini
Hatiku hampa, penuhilah dengan cintamu
Tubuhku menggigil, hangatkanlah dengan pelukmu
Pipiku basah oleh tangisan, hapuslah dengan tanganmu
Rupaku suram tak bercahaya, sinarilah dengan senyummu
Tanganku kosong menggapai langit, genggamlah erat dan tuntun bersamamu

Hari-hari berlalu tak berbekas. Tak ada yang tertinggal tuk dikenang. Berlebihan bila ku katakan aku tak mampu tanpamu. Nyatanya kini aku masih bernafas. Hanya saja kini terasa tak sama, menjalani aktifitas layaknya robot. Jika kau berfikir aku menghamba padamu, tentu tidak sayang. Ini bukanlah tentang kendaliku yang telah kau pegang, melainkan kebersamaan yang sudah lama berlalu. Merindu kenangan yang indah dan syahdu dalam benakku, tak rela bila berlalu dalam hidup.

Bagian dari dirimu

Hidup memang penuh kejutan. Betapa tidak, hanya dalam hitungan detik semua bisa berubah. Tawa menjadi tangis, senyum yang hilang digantikan cemberut, mata yang berbinar kini seakan kehilangan sinarnya. Silih berganti, hingga akhirnya kau sadar, bahwa tak ada yang abadi. Bahkan apa yang telah kau rencanakan dengan matang pun, apabila Dia tak berkehendak maka semua kan menjadi angan belaka.
Aku tahu jeritan yang terdengar dari lubuk hatimu yang terdalam, usah kau takut tuk berkata, karena semua keluhmu terlalu berisik hingga angin pun mendengarnya.aku tahu semua sakitmu, meski saat ini kau tutupi semua dengan tawamu, tapi suaranya terdengar sumbang bagiku. Kuatkanlah hatimu sayang, aku tak bisa membantumu lebih dari ini. Hanya tetap bertahanlah menghadapi badai ini, takkan ia singgah lama dan menyakiti dirimu terus. Hingga akhirnya nanti semua kekelaman itu hilang dan digantikan langit cerah bersama senyuman dari mentari.
Teori mungkin terdengar indah, namun melakukannya butuh kekuatan penuh. Kusadari kau masih tertatih untuk saat ini, tapi sekali lagi, aku tak bisa berbuat apa-apa. Ingin rasanya kupeluk dirimu dan menenangkan sesak di dadamu, dan tentu saja semua hanya bisa kupendam karena hal itu takkan pernah terjadi.
Kau adalah sosok yang kuat,tapi kau tak pernah menyadarinya. Karena angin sepoi-sepoi yang membuatmu terlena akan kehidupan ini. Bangkitlah, kau takkan pernah tahu seberapa tangguh dirimu, hingga akhirnya tangguh adalah satu-satunya pilihan yang kau punya.
Aku akan selalu mendoakanmu dan menyemangatimu, walau tak pernah kau tahu, walau tak pernah bisa kau rasa, walau tak pernah bisa kau dengar. Bahagiamu adalah bahagiaku, tangismu adalah tangisku, karena aku adalah bagian dari dirimu.
Salam sayang penuh cinta dari , kedalaman hatiku

Keluarga Hatiku

Terjebak dalam permainan sendiri itu rasanya sangat menyakitkan. Aku telah berhasil membuat sebuah perangkap cantik yang perlahan-lahan menyayat diriku hingga ke ulu hati. Aku yang kini meratapi nasibku karena hanya bisa dianggap adik kecil yang manis. Yah, itulah keadaanku yang kini terperangkap dalam “family zone”
Aku tahu disini akulah yang salah, tapi aku tak bisa untuk berbohong bahwa aku menyukai setiap bentuk perhatian kecilnya. Aku tak rela melepas semua kesenangan semu itu, meski pada akhirnya akulah yang semakin terjatuh pada lubang yang kugali sendiri.
Sentuhannya pada helaian rambutku, matanya yang menatapku dengan lekat saat berbicara, tawanya yang terdengar merdu saat menggodaku, dan yang paling ku suka, saat ia tahu kedaan diriku meski tak pernah kukatakan.
Aku sering mendapatinya tengah menatapku dari kejauhan. Hatiku kecilku slalu berteriak kegirangan, menangkap basah ia sedang seperti itu, tetapi tentunya juga merasakan sesak di dada, karena aku tahu aku tak lebih dari seorang adik kecil baginya.
Satu hal yang pasti dan tak kusuka darinya adalah ia telalu cuek. Bisa dibayangkan menyukai orang yang cuek. Ia jarang sekali mau menyapa duluan. Baik itu padaku maupun otang lain. Suatu kali, aku merasa jengah, dan mengeluarkan apa yang ada difikiram ku mengenai sikap cueknya itu. Tapi apa yang aku dapat? Ia hanya tertawa sambil berkata bahwa memang begitulah dirinya. Aku tak habis pikir dengan dirinya, bisa-bisanya ia hanya berkata begitu. Ditengah-tengah kejengkelanku aku tersenyum, ternyata akulah yang bodoh disini. Menyukai orang yang jelas-jelas tak menarik minat dengan lingkungan sekitarnya.
Aku bersyukur pada akhirnya interaksi kita tak sebanyak dulu lagi, karena banyaknya kegiatan yang kuambil dan kelas kita yang berbeda. Setidaknya, olahraga jantungku sedikit berkurang saat melihat senyum itu. Aku tak sanggup lagi menyimpan rasa ini terlalu lama, cukup sakit jika hanya satu pihak yang menginginkan. Aku tal ingin lagi menyalah artikan setiap perhatian maupun interaksi diantara kita. Biar saja kusimpan setiap cuplikan adegan dimana hatiku seolah melambung tinggi ke angkasa. Biarlah kuingat saat dimana dirimu berada tepat dibelakangku dan seolah mengunci diriku dengan tangan yang kau sampirkan di dinding. Lalu alunan suara yang kau keluarkan saat itu, yang masih terngiang dengan jelas. Lalu tawa yang kau keluarkan saat jawabanku seolah terdengar seperti lelucon bagimu. Saat pada akhirnya kau menurunkan tanganmu dan menarik dirimu dari belakangku, aku seolah tak rela semua itu telah berakhir.
Pada akhirnya itu hanya akan jadi memori yang akan selalu terkenang, aku akan selalu mengingatmu “keluarga hatiku”

Bintang

Selamat malam bintang di langit. Apa kabar kau yang bersinar jauh di atas sana? Aku begitu bahagia melihat indahnya kemilau malam ini. Sinar yang kau pancarkan menerangi seluruh bumi ini, dan tahukah kau bintang, sinar itu mampu menembus ke kedalaman hati ini.

Sungguh indah kau bintang, memberi sukacita kepada setiap insan yang memandang jauh ke langit yang tampak kelam ditutupi kegelapan. Di bawah terang benderang mu, aku tersenyum sambil bersenandung kecil. Mengisi kesunyian malam ini dengan alunan melodi yang membuat ku tenang. Dinginnya udara malam tak lagi kurasa, semua bagai kombinasi yang tercipta dengan uniknya. Binatang malam pun tak berani mengusik kesenanganku. Mereka terdiam dan menemani diriku yang asyik menikmati mu dari jauh.

Sepertinya awan-awan pun ingin membuat malam ku lebih indah. Mereka berjalan perlahan meninggalkan langit diatas ku, hingga terlihat lah bintang itu sangat jelas dan cantik. Hey bintang, dari bawah sini aku melihat sinar mu yang kelap-kelip itu seolah menyiratkan kau sedang tersenyum genit memandang ku sekarang.

Terima kasih bintang, untuk secercah kebahagiaan yang telah kau berikan, dan seiring dengan waktu, sinar mu akan digantikan oleh mentari. Tapi semua kenangan ini akan terus terpatri dalam memori ku. Hingga pada saatnya nanti kita kan bertemu lagi.